oleh

Ksatria Bulu Tangkis Indonesia Luar Biasa

SeputarNKRI –

loading…

JAKARTA – Bulu tangkis menjaga tradisi sebagai cabang olahraga yang selalu menyumbang emas di Asian Games.

Bertempat di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan tunggal putra Jonatan Christie mempertahankan tradisi tersebut, kemarin.

Kevin/Marcus mendapat emas setelah mengalahkan rekan satu negara FajarAlfian/Muhammad Rian Ardianto 13-21,21-18,24-22. Sedangkan Jonatan memastikan satu emas dengan menundukkan wakil Taiwan Chou Tien Chen (Taiwan) 21-18, 20-22, 21-15.

Selain dua emas, bulutangkis juga memberikan dua perak dan empat perunggu. Perak disum bangkan Fajar/Rian dari ganda putra serta beregu putra. Sedangkan perunggu berasal Anthony Sinisuka Ginting, tunggal putra, beregu putri, ganda putri (Greysia Polii/Apriyani Rahayu), dan ganda campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir).

“Saya tidak pernah menyangka bisa dapat emas Asian Games karena ini kan kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulu tangkis bagus itu di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi, Anthony Ginting,” kata pebulu tangkis yang biasa dipanggil Jojo tersebut setelah pertandingan.

Berusia 20 tahun, keberhasilan Jojo mendapatkan medali emas mendapatkan banyak pujian. Apalagi dia memperlihatkan kematangan secara taktik dan emosional sepanjang tampil dari babak 32 besar sampai ke final. Jojo selalu berhasil melewati masa kritis, meski dia sempat tertinggal. Fisiknya juga terbilang stabil karena bisa bermain dengan energi dan fokus sama meski harus bermain tiga set.

Seperti saat pertandingan final kemarin. Pertandingan berlangsung menegangkan. Meski terlihat mudah menguasai game pertama, tapi dia justru kesulitan di game kedua. Peraih emas tunggal putra dan beregu putra SEA Games 2017 itu justru gagal mengembangkan permainan.

Dia sempat tertinggal sampai 10- 15, meski sempat menyamakan kedudukan menjadi 20-20, Chou bisa mampu mengubah ritme dan mendominasi permainan. Kombinasi permainan net dan smash tajam membuat Jojo harus rela bertarung sampai rubber game.
Situasi yang membuat penonton khawatir karena situasi itu hampir mirip dengan saat Chou mengalahkan Ginting. Namun, Chou seperti hanya tinggal memiliki sisa tenaga saat Jojo masih tampil stabil walaupun tentu pertan dingan ini sangat melelahkan baginya.

Unggul jauh 17-9, Jonatan sempat nyaris terkejar hingga 18-13, tapi bisa menyudahi pertandingan menjadi 21-15. “Kemenangan ini sangat berarti untuk saya, saat saya terpuruk, banyak komentar negatif. Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Setelah lepas beban ini dan jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, saya membukti kan kalau saya masih bisa,” tutur pebulu tangkis ber pering kat 15 dunia tersebut. Final tak kalah menegangkan juga terjadi di ganda putra yang menggelar all Indonesian final.

Memiliki rekor head to head 1-0, Kevin/Marcus tak langsung mudah bisa menundukkan pasangan peringkat 9 dunia Fajar/Rian. Pasangan ganda terbaik dunia itu butuh rubber game selama 51 menit untuk bisa memastikan emas.

“Pada game ketiga babak final ini, kami sempat tertinggal jauh. Sempat merasa hopeless. Tetapi, kami memperoleh keberuntungan pada poin-poin terakhir,” ungkap Marcus.

Pada game pertama, pasangan yang biasa dipanggil Minions sempat tidak bisa mengembangkan permainan, bahkan tidak pernah unggul sekalipun dalam pengumpulan poin sejak awal hingga akhir pertandingan.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz

News Feed