oleh

Agus Ambo Djiwa: Bangun Industri Sepak Bola dengan Pola Tamasya

SeputarNKRI –

loading…

JAKARTA – Calon Komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2019/2023, Agus Ambo Djiwa, ingin mengembalikan visi gotong royong untuk membangun sepak bola Indonesia. Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke Gedung SINDO, Selasa (22/10) siang WIB.

Konsep gotong royong ini merupakan visi yang dibawa Agus saat memperebutkan kursi Exco PSSI nanti. Dia mengatakan selama ini sepak bola Tanah Air telah keliru dalam membangun sepak bola.

Karena siapa pun ketua dan pengurus PSSI yang terpilih, mereka selalu berpikir tentang juara. Agus menyayangkan pola pemikiran seperti itu. Karenanya, ia ingin semua klub yang ikut dalam kompetisi sepak bola harus membawa satu nama yakni Indonesia.

“Dengan pencalonan saya ini, saya berkeinginan bahwa negara kita ini negara sepak bola. Bisa dikatakan, bola sudah menjadi olahraga yang merakyat tanpa mengenal strata dan kedudukan. Begitu berbicara bola, maka semua orang bicara tentang bola. Saya melihat visi sepak bola kita itu bahwa siapa pun pengurus bola selalu juara. Bola itu sudah dikemas menjadi sebuah industri,” kata Agus.

“Yang kita lupakan itu bagaimana bola ini sudah dikemas menjadi sebuah industri sebagai olahraga profesional. Nah, yang kita lupa mengelola suporter. Kita hanya terfokus mengelola klub, tapi kita lupa mengelola suporter. Karena sering kali kita melihat keributan, jadi apa yang didapat dari sepak bola? Kita mau ke depannya masyakarat yang menyaksikan pertandingan bola senang. Sehingga semua problem itu hilang dengan menyaksikan bola,” beber Agus.

“Yang penting ke depannya harus diperbaiki manajemen dan suporter, sehingga kalau saya terpilih jadi Exco nantinya, saya ingin menyampaikan kepada ketua dan pengurus Exco bagaimana kita tidak boleh melupakan visi sepak bola kita yakni gotong-royong sebagai visi kita,” sambungnya.

Agus mengatakan dengan gotong-royong masyarakat bisa mempersatukan persepsi tentang sepak bola. “Bahwa kita sebagai anak bangsa sama. Artinya, klub mana pun milik kita dan jangan klub Persija hanya orang Jakarta, Persib Bandung hanya punya orang Bandung, dan PSM hanya milik Makassar.”

“Kita mau Persija, Persib, dan PSM milik Indonesia. Dengan mengubah image tersebut, maka ketika selesai menonton maka tidak ada keributan. Karena itu, dbutuhkan manajemen suporter dan diorganisir. Mengorganisir suporter dan setiap tahun akan dilakukan pertemuan. Itulah cita-cita saya jika saya didukung Asprov se-Indonesia, maka saya ingin membangun industri dengan pola tamasya,” pungkas Bupati Pasangkayu.

(sha)

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz

News Feed