oleh

Doni Monardo Menengok Putaran Roda Zaman



SeputarNKRI

loading…

Egy Massadiah
Staf Khusus Kepala BNPB dan Anggota Satgas Covid-19

SIAPA
yang masih berani mengingkari roda zaman? Ia benar-benar beputar. Bukan saja dalam arti kiasan, tetapi juga makna yang sebenarnya.

Awal mula, kita kenal rotasi bumi. Bumi berputar sambil mengelilingi matahari. Pergerakan bumi mengelilingi matahari disebut revolusi bumi. Dalam bentuk kiasan, ada istilah rotasi nasib. Nasib manusia pun berputar mengelilingi takdir.

Tak pelak, dunia yang kita ketahui pun menjadi siang dan malam. Berlebih dan kekurangan. Sakit dan sehat. Dua yang bertentangan bertumpuan. Dua yang berseberangan berhubungan. Dua yang mustahil dimungkinkan.

Dalam naskah drama AIB yang ditulis Putu Wijaya saat mondok di Wisconsin University, Madison USA tahun 1984 dan kemudian dipentaskan di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki 1985. Dalam openingnya dibuka dengan kalimat: sejarah manusia tidak pernah bergerak, hanya nama pahlawan yang berganti ganti. Singkat kata, selalu ada pengulangan siklus peristiwa.

Lantas, apakah wabah juga punya siklus? Nah, topik ini yang hendak kita bahas.

Pada satu waktu. Waktunya belum terlalu lama. Bulannya masih Juli dan Agustus tahun 2020, Kepala BNPB yang juga Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo dalam berbagai acara mengajak hadirin menyusuri lorong waktu. Jauh ke belakang, ke zaman kolonial.

Tersebutlah tahun 1918-1919, wabah sejenis virus corona melanda Hindia Belanda, nama Indonesia ketika masih dicengkeram Belanda. Dokumen sejarah yang terbit di berbagai media ketika itu adalah bukti nyata. Bukan hanya manuskrip, tetapi juga testimoni dari banyak narasumber generasi kedua atau ketiga. Kesemuanya dikumpulkan dengan teliti oleh sebuah tim sejarawan dari Universitas Indonesia.

Sekadar menyebut sumber, baiklah kita sebut nama-nama media massa yang memberitakan wabah dahsyat di era kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1916-1921, Johan Paul van Limburg Stirum. Pertama, Algemeen Handelsblad edisi 30 Oktober 1918 dengan judul Spaansche Griep (Flu Spanyol). Kedua, De Masbode edisi 7 Desember 1918 dengan judul Kolonien Uit Onze Oost, De Spaansche Ziekte op Java (Dari Timur Kami, Penyakit Spanyol di Jawa).

Ketiga, De Telegraaf edisi 22 November 1918 yang memuat berita berjudul De Spaansche Griep op Java (Flu Spanyol di Jawa). Masih dari media yang sama, tanggal 5 Februari 1919, menurunkan berita berjudul De Spaansche Griep op Java de Officieele Sterftecijfers (Angka kematian resmi flu Spanyol di Jawa). Keempat, De Sumatra Post edisi 11 Desember 1920, menurunkan tulisan berjudul Influenza.

Doni Monardo lantas menegaskan, “Kalau ada yang mengatakan Covid ini adalah yang pertama terjadi di muka bumi, saya berani mengatakan, itu salah!”

Pernyataan Doni diperkuat literatur Yang Terlupakan: Pandemi 1918 di Hindia Belanda, ditulis sejarawan pandemi Tb Arie Rukmantara dan tim pada 2009. Buku menunjukkan fakta sejarah bahwa pandemi adalah peristiwa berulang yang sudah tercatat sejak tahun 1700. Dalam 100 tahun terakhir, interval antarpandemi flu berkisar antara 10 dan 50 tahun sekali.

Kejadian masa lampau seperti yang digambarkan tadi, jauh lebih mematikan, serta merenggut nyawa lebih besar. Tak kurang dari 13,3 persen dari populasi penduduk ketika itu, meninggal karena wabah yang dinamakan Flu Spanyol.

Jumlah penduduk Hindia Belanda tahun-tahun itu, sekitar 35 juta jiwa. Dari jumlah itu, 13,3 persen meninggal karena Flu Spanyol. Itu artinya, lebih dari 4,6 juta nyawa meregang. “Karena itu saya berani mengatakan, kondisi waktu itu jauh lebih buruk,” tandas Doni.

Tak lupa Doni berpesan kepada jajarannya, “Kita yang bekerja di bidang penanganan covid harus mengetahui tentang peristiwa di masa lalu. Kita harus berani mengatakan Covid-19 ibarat malaikat pencabut nyawa. Zaman dulu saja pernah merenggut jutaan manusia, bukan tidak mungkin Covid-19 juga merenggut nyawa yang tidak sedikit, jika tidak ditangani secara serius. Jika kita semua tidak menyikapinya secara sungguh-sungguh.”

Ciri-ciri Sama

Merujuk sumber otentik serta manuskrip tua berusia 102 tahun, tersebutlah adanya kemiripan ciri antara Flu Spanyol (Spaansche Griep) dan Covid-19.

Menanggapi epidemi itu, Prof Dr dr P Ruitinga, profesor kedokteran Universitas Kota –ketika itu—mengatakan penyebabnya tidak benar-benar diketahui. Masyarakat di perdesaan, seperti di Tana Toraja, hanya dapat mengingat bahwa penyakit tersebut disebarkan “lewat angin”.

Tetapi wabah ini diyakini ditularkan dari orang ke orang melalui kontak. Istilah “kontak” ini kemudian harus ditafsirkan dalam arti yang lebih luas, yaitu penyakit ini ditularkan tidak hanya dengan sentuhan, tetapi juga melalui interaksi timbal balik, misalnya ketika berbicara dengan seseorang.

Droplet (cairan ludah/saliva) yang dikeluarkan saat berbicara dapat menularkan infeksi kepada mereka yang berbicara dengannya. Ada tanda-tanda bahwa orang sehat juga bisa menularkan penyakit (OTG).

Dokumen menyebutkan pula tentang cara-cara Pemerintah Kolonial mengatasi “pageblug” tersebut. Antara lain dengan menerapkan pola sosialisasi menggunakan kearifan lokal melalui bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Di Jawa, digunakan sarana kesenian wayang. Ujungnya mitigasi dan perubahan perilaku.

Inti sosialisasi adalah, bahwa influenza yang mewabah, bisa mengakibatkan sakit panas dan batuk, mudah menular, asalnya dari abu dan debu (airborne). Berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan tersebarnya debu.

Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah, harus tidur dan istirahat di rumah. Badannya diselimuti dengan rapat, kepalanya dikompres dan tidak boleh mandi.

Jika Covid-19 melahirkan badan atau lembaga khusus untuk menanggulangi (Gugus Tugas, kemudian PEN dan Satgas), maka pada tahun 1918-1919, pemerintah kolonial juga membentuk Influenza Commissie (Komisi Flu). Komisi khusus mengurus pandemi tersebut, beranggotakan rektor UGM pertama Profesor Sardjito.

Komisi menugaskan secara spesifik penanganan wabah, bukan hanya kepada para dokter, tetapi juga kepada sejumlah institusi dan profesi.

Antara lain Dinas Kesehatan Umum (Burgerlijke Gezondheid Toestand), Kepala Pelabuhan (haven meester), Nakhoda Kapal (gezaghebber), Kepala Sekolah, dan Dinas-dinas lain terkait.

Sanksi Pidana

Selain sosialisasi, pemerintah kolonial juga menerapkan sanksi yang tidak main-main guna menekan makin besarnya jumlah korban. Pemerintah mengancam penjara enam hari atau denda uang maksimal 50 gulden kepada setiap orang yang tidak mau menerima tindakan pengawasan seperti yang diatur sesuai pasal 3 sub a.

(dam)

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz

News Feed